12 Cara Menemukan Orphan Pages dan Menghubungkannya dengan Internal Link

Joko Warino

Cara Menemukan Orphan Pages dan Menghubungkannya dengan Internal Link

Orphan pages merupakan salah satu masalah SEO yang sering ditemukan ketika sebuah website sudah memiliki banyak artikel.

Masalah ini terjadi ketika suatu halaman tidak mendapatkan tautan internal dari halaman lain di website yang sama.

Akibatnya, pengunjung lebih sulit menemukan halaman tersebut melalui navigasi internal, sedangkan mesin pencari kehilangan salah satu jalur untuk menemukannya.

Pada website berbasis WordPress, orphan pages dapat muncul karena artikel lama tidak pernah diperbarui, kategori dihapus, struktur navigasi berubah, atau artikel baru diterbitkan tanpa dihubungkan dengan konten sebelumnya.

Cara mengatasinya bukan sekadar menambahkan tautan secara acak.

Anda perlu mengidentifikasi halaman yang benar-benar orphan, memeriksa kondisi URL, menentukan artikel sumber yang relevan, kemudian menambahkan internal link secara kontekstual.

Dalam panduan ini, Anda akan mempelajari cara menemukan orphan pages menggunakan crawler SEO, Google Search Console, sitemap XML, dan WordPress, serta langkah memperbaikinya secara sistematis.

Apa Itu Orphan Pages dalam SEO?

Orphan pages adalah halaman website yang tidak memiliki internal link masuk dari halaman lain yang dapat dijangkau melalui struktur tautan internal website.

Sebagai contoh, Anda memiliki tiga artikel:

  • Artikel A: Cara Optimasi SEO On Page.
  • Artikel B: Cara Melakukan Riset Keyword.
  • Artikel C: Cara Menentukan Prioritas Keyword.

Artikel C mungkin sudah dipublikasikan dan tercantum dalam sitemap XML, tetapi tidak mendapatkan tautan dari Artikel A, Artikel B, kategori, maupun halaman lain di website. Jika tidak ada internal link masuk, Artikel C berpotensi menjadi orphan page.

Perlu diperhatikan bahwa sebuah halaman tidak otomatis menjadi orphan hanya karena tidak muncul di menu navigasi. Halaman tersebut mungkin masih memperoleh tautan dari artikel lain.

Selain itu, orphan page tidak selalu berarti halaman tersebut tidak diindeks Google.

Halaman dapat ditemukan melalui sitemap, backlink eksternal, atau sumber URL lain. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan menggunakan beberapa sumber data.

Mengapa Orphan Pages Perlu Diperbaiki?

Ada beberapa alasan mengapa Anda perlu menemukan dan memperbaiki orphan pages.

  1. Mempermudah navigasi pengunjung. Pembaca dapat menemukan artikel lain yang relevan tanpa harus kembali ke Google.
  2. Membantu penemuan URL. Internal link menyediakan jalur bagi crawler untuk menemukan halaman lain.
  3. Memperjelas hubungan antarkonten. Tautan yang relevan membantu menunjukkan hubungan topik dalam website.
  4. Mendukung distribusi internal link. Halaman penting dapat memperoleh tautan dari artikel lain yang relevan.
  5. Mengurangi konten yang terlupakan. Artikel lama yang masih bermanfaat dapat kembali terhubung dengan struktur website.

Namun, menambahkan internal link tidak otomatis membuat halaman mendapatkan ranking lebih tinggi. Kualitas konten, relevansi, aksesibilitas, dan faktor SEO lainnya tetap perlu diperhatikan.

Inilah Cara Menemukan Orphan Pages

1. Siapkan Daftar URL Website Sebelum Melakukan Audit

Langkah pertama adalah mengumpulkan daftar URL yang seharusnya diperiksa.

Jangan langsung mengandalkan satu sumber karena setiap sumber dapat menampilkan URL yang berbeda.

Gunakan beberapa sumber berikut:

  • Sitemap XML: daftar URL yang disediakan website untuk membantu mesin pencari menemukan halaman.
  • Crawler SEO: daftar halaman yang ditemukan melalui proses crawling.
  • Google Search Console: data halaman yang diketahui atau dilaporkan oleh Google.
  • WordPress: daftar artikel dan halaman yang pernah diterbitkan.

Jika menggunakan WordPress, periksa sitemap yang tersedia di URL seperti https://domainanda.com/wp-sitemap.xml atau sitemap dari plugin SEO yang digunakan.

Siapkan Daftar URL Website Sebelum Melakukan Audit

Ganti domainanda.com dengan domain website Anda. Sitemap yang digunakan bisa berbeda bergantung pada konfigurasi WordPress dan plugin.

Unduh atau catat daftar URL dari setiap sumber. Selanjutnya, bandingkan daftar tersebut untuk mencari halaman yang tercantum dalam sitemap atau WordPress tetapi tidak ditemukan melalui crawling internal.

2. Crawl Website Menggunakan Screaming Frog SEO Spider

Screaming Frog SEO Spider merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk merayapi halaman website dan menganalisis struktur tautan internal.

Untuk memulai audit, ikuti langkah berikut:

  1. Unduh dan buka Screaming Frog SEO Spider.
  2. Masukkan URL utama website, misalnya https://jokowa.id/.
  3. Klik Start untuk memulai crawling.
  4. Tunggu hingga proses selesai.
  5. Buka tab Internal untuk melihat URL yang ditemukan crawler.
  6. Periksa laporan terkait struktur internal linking dan jumlah tautan masuk jika tersedia pada versi yang digunakan.

Proses crawling di Screaming Frog

Perhatikan bahwa kemampuan audit dan batas jumlah URL dapat berbeda antara versi gratis dan berbayar. Website besar mungkin membutuhkan konfigurasi crawling tambahan.

Cara membaca hasil crawling

Periksa apakah halaman yang penting ditemukan oleh crawler. Kemudian bandingkan hasilnya dengan daftar URL dari sitemap dan WordPress.

Misalnya, sitemap berisi 1.000 URL, tetapi crawler hanya menemukan 850 URL melalui jalur internal yang digunakan. Selisih 150 URL tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.

Angka tersebut belum membuktikan terdapat 150 orphan pages. Sebagian URL mungkin berupa halaman yang diblokir, halaman yang tidak dapat dijangkau, URL dengan redirect, atau halaman yang memang tidak perlu ditautkan.

Karena itu, lanjutkan pemeriksaan menggunakan laporan internal link dan sumber URL lainnya.

Cara membaca hasil crawling

3. Temukan Halaman dengan Nol Internal Link Masuk

Setelah crawling selesai, langkah berikutnya adalah memeriksa jumlah internal link masuk untuk setiap halaman.

Dalam Screaming Frog, Anda dapat menggunakan laporan Crawl Analysis dan fitur yang berkaitan dengan orphan URLs atau orphan pages jika tersedia pada versi yang digunakan.

Laporan tersebut dapat membantu mengidentifikasi URL yang diketahui dari sumber tambahan, seperti sitemap, tetapi tidak ditemukan melalui jalur crawling internal.

Nama menu dan alur pengaturan dapat berbeda menurut versi aplikasi.

Secara umum, lakukan langkah berikut:

  1. Pastikan crawling website sudah selesai.
  2. Aktifkan atau jalankan analisis crawling jika diperlukan.
  3. Tambahkan sitemap XML sebagai sumber URL tambahan jika fitur tersebut tersedia.
  4. Jalankan kembali analisis.
  5. Buka laporan orphan URLs atau laporan internal linking yang relevan.
  6. Ekspor daftar URL untuk diperiksa satu per satu.

Temukan Halaman dengan Nol Internal Link Masuk

Apabila menggunakan crawler lain, cari laporan yang menunjukkan halaman tanpa internal link masuk atau halaman yang ditemukan dari sitemap tetapi tidak ditemukan melalui navigasi internal.

Jangan langsung memperbaiki semua URL yang muncul dalam laporan. Periksa dahulu apakah URL tersebut merupakan artikel aktif, halaman penting, halaman hasil pencarian internal, URL parameter, halaman arsip, atau halaman yang memang tidak perlu dipertahankan.

4. Gunakan Google Search Console untuk Memverifikasi URL

Google Search Console dapat membantu Anda memahami status halaman dari perspektif Google.

Namun, alat ini tidak menyediakan satu laporan universal yang langsung menampilkan seluruh orphan pages sebuah website.

Gunakan Search Console sebagai sumber pembanding.

Langkah-langkahnya:

  1. Buka Google Search Console dan pilih properti website yang benar.
  2. Masuk ke laporan Pages atau laporan pengindeksan halaman yang tersedia.
  3. Periksa halaman yang sudah diindeks dan halaman yang belum diindeks.
  4. Gunakan fitur URL Inspection untuk memeriksa URL yang dicurigai sebagai orphan.
  5. Periksa informasi tentang status indeks dan ketersediaan halaman.
  6. Bandingkan hasilnya dengan data crawler dan sitemap.

Gunakan Google Search Console untuk Memverifikasi URL

Misalnya, suatu artikel ada di sitemap dan WordPress, tetapi tidak ditemukan crawler melalui internal link.

Jika URL tersebut juga sudah diindeks Google, kondisi ini tetap perlu diperiksa karena halaman yang terindeks tidak selalu memiliki jalur navigasi internal yang baik.

Sebaliknya, jika halaman belum diindeks, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya adalah orphan page. Periksa juga kualitas konten, status HTTP, canonical, noindex, serta kemungkinan kendala crawling.

5. Buat Spreadsheet untuk Mengelompokkan Orphan Pages

Setelah memperoleh data dari crawler, sitemap, Search Console, dan WordPress, gabungkan informasi tersebut dalam spreadsheet.

Gunakan struktur kolom berikut:

KolomFungsi
URLAlamat halaman yang diperiksa
Judul ArtikelIdentitas konten
Sumber URLSitemap, WordPress, atau sumber lain
Ditemukan CrawlerYa atau tidak
Internal Link MasukJumlah tautan internal masuk jika tersedia
Status HTTPMisalnya 200, 301, 404, atau 5xx
Status IndexTerindeks, belum terindeks, atau belum diketahui
PrioritasTinggi, sedang, atau rendah
TindakanTambahkan link, perbaiki URL, redirect, atau evaluasi

Buat Spreadsheet untuk Mengelompokkan Orphan Pages

Contoh pengelompokan:

URLTemuanTindakan
/panduan-seo-a/Tidak ditemukan crawlerPeriksa internal link
/panduan-seo-b/Status 404Evaluasi pemulihan atau redirect
/panduan-seo-c/Memiliki internal linkTidak perlu diperbaiki sebagai orphan

Tabel di atas merupakan contoh format kerja, bukan hasil audit aktual.

Jika jumlah URL banyak, gunakan filter untuk menampilkan halaman yang belum ditemukan crawler, lalu periksa apakah halaman tersebut memang tidak memiliki internal link masuk.

6. Tentukan Orphan Pages yang Layak Diperbaiki

Tidak semua halaman yang tidak memiliki internal link perlu dipertahankan.

Sebelum menambahkan tautan, tentukan apakah halaman tersebut masih layak menjadi bagian dari website.

Prioritaskan halaman yang memenuhi satu atau beberapa kriteria berikut:

  • Konten masih relevan dan bermanfaat.
  • Memiliki potensi traffic organik.
  • Mendukung topik utama website.
  • Memuat informasi yang tidak tersedia pada artikel lain.
  • Memiliki backlink atau riwayat traffic yang masih bernilai.
  • Menjawab kebutuhan pembaca yang jelas.

Sebaliknya, halaman duplikat, konten tipis yang tidak berguna, URL parameter, dan halaman yang sengaja tidak diindeks perlu dievaluasi terlebih dahulu.

Jika konten masih bermanfaat, pertimbangkan untuk menghubungkannya dengan artikel yang relevan. Jika konten sudah usang, perbarui terlebih dahulu.

Jika halaman benar-benar tidak dibutuhkan, evaluasi apakah lebih tepat dihapus atau dialihkan ke halaman pengganti yang relevan.

Jangan mengalihkan semua orphan pages ke homepage karena tindakan tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna dan dapat menghasilkan pengalaman yang buruk.

7. Cari Artikel yang Cocok sebagai Sumber Internal Link

Setelah menentukan halaman yang akan diperbaiki, cari artikel lain yang relevan untuk dijadikan sumber tautan.

Ada beberapa cara praktis untuk melakukannya.

Gunakan pencarian internal website

Cari kata kunci utama dari orphan page menggunakan fitur pencarian website atau mesin pencari.

Contohnya, jika halaman yang ingin diperbaiki membahas SEO On Page, cari artikel lain di website yang membahas audit website, internal linking, crawling, atau optimasi konten.

Gunakan pencarian Google dengan operator site

Masukkan kueri seperti:

site:jokowa.id "internal link"

Atau:

site:jokowa.id SEO On Page

Operator tersebut dapat membantu menemukan halaman yang relevan, tetapi hasil pencarian tidak selalu lengkap. Periksa kembali isi halaman sebelum menentukan sumber link.

Gunakan spreadsheet konten

Filter daftar artikel berdasarkan kategori, topik, keyword, dan judul.

Pilih artikel yang sudah membahas topik terkait atau memiliki bagian pembahasan yang dapat dikembangkan untuk menghubungkan halaman target.

Periksa artikel yang sudah mendapatkan traffic

Artikel yang relevan dan sudah memiliki pengunjung dapat menjadi kandidat sumber tautan yang baik.

Namun, relevansi konten tetap menjadi pertimbangan utama. Jangan menambahkan link hanya karena suatu artikel memiliki traffic tinggi.

Tambahkan Internal Link dengan Anchor Text yang Relevan

Setelah menentukan artikel sumber, buka editor WordPress untuk mengedit artikel tersebut.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Masuk ke dashboard WordPress.
  2. Pilih menu Posts → All Posts atau menu halaman yang sesuai.
  3. Buka artikel yang akan dijadikan sumber tautan.
  4. Cari paragraf yang pembahasannya berhubungan dengan halaman target.
  5. Pilih frasa yang menjelaskan informasi pada halaman tujuan.
  6. Klik ikon tautan atau tekan Ctrl + K.
  7. Masukkan URL orphan page yang benar.
  8. Pastikan URL tidak salah ketik dan tidak mengarah ke redirect yang tidak diperlukan.
  9. Simpan perubahan dengan menekan Update.
  10. Buka artikel di browser untuk memastikan tautan berfungsi.

Tambahkan Internal Link dengan Anchor Text yang Relevan

Contoh penerapan:

Sebelum diperbaiki:

Internal link merupakan bagian penting dalam optimasi website.

Sesudah diperbaiki:

Internal link merupakan bagian penting dalam optimasi website. Anda juga dapat mempelajari cara optimasi SEO On Page yang benar untuk memahami bagaimana struktur tautan dan elemen halaman mendukung optimasi konten.

Pada penerapan nyata, tautkan artikel sumber menuju URL orphan page yang sedang diperbaiki. Contoh di atas hanya menunjukkan cara menggunakan anchor text kontekstual.

Hindari penggunaan anchor text yang terlalu umum seperti “klik di sini” jika frasa yang lebih deskriptif dapat digunakan secara alami.

9. Hubungkan Orphan Pages Berdasarkan Topik

Jangan menambahkan internal link secara acak. Hubungkan halaman berdasarkan hubungan topik dan kebutuhan pengguna.

Hubungkan Orphan Pages Berdasarkan Topik

Sebagai contoh, pada website yang membahas SEO, struktur internal link dapat dibuat seperti berikut:

  • Artikel utama tentang SEO mengarah ke artikel SEO On Page.
  • Artikel SEO On Page mengarah ke artikel audit website.
  • Artikel audit website mengarah ke artikel tentang broken link.
  • Artikel tentang web crawler mengarah ke artikel audit internal linking jika konteksnya sesuai.

Pola tersebut membantu membangun hubungan antarkonten. Namun, tidak semua artikel harus saling menautkan. Pilih tautan yang benar-benar memberikan informasi tambahan bagi pembaca.

Anda dapat mempelajari cara melakukan website audit untuk memahami pemeriksaan struktur website secara lebih luas, termasuk masalah internal linking dan halaman yang sulit ditemukan.

Selain itu, pahami cara kerja web crawler agar lebih mudah menjelaskan mengapa jalur internal link dapat membantu crawler menemukan URL lain.

10. Periksa Kembali Orphan Pages Setelah Perbaikan

Setelah menambahkan tautan, lakukan audit ulang untuk memastikan perbaikan sudah bekerja.

Ikuti langkah berikut:

  1. Simpan perubahan pada seluruh artikel sumber.
  2. Jalankan kembali crawling website.
  3. Periksa apakah URL target sekarang ditemukan melalui tautan internal.
  4. Periksa jumlah internal link masuk jika tersedia.
  5. Buka URL target secara langsung untuk memastikan halaman berstatus normal.
  6. Periksa apakah tautan yang baru ditambahkan mengarah ke URL yang benar.
  7. Catat tanggal perbaikan dalam spreadsheet.

Periksa Kembali Orphan Pages Setelah Perbaikan

Jika URL masih tidak ditemukan crawler, periksa apakah artikel sumber benar-benar dapat dijangkau dari titik awal crawling dan apakah tautan muncul dalam HTML yang dapat diproses crawler.

Periksa juga apakah tautan memakai elemen HTML yang sesuai, misalnya elemen <a> dengan atribut href yang mengarah ke URL target.

Tautan yang hanya bekerja melalui interaksi JavaScript tertentu dapat membutuhkan pemeriksaan tambahan.

11. Pantau Perkembangan melalui Google Search Console

Audit internal link tidak harus berhenti setelah orphan page berhasil dihubungkan.

Pantau performa halaman melalui Google Search Console untuk melihat apakah terdapat perubahan pada impressions, clicks, posisi rata-rata, dan status pengindeksan.

Gunakan langkah berikut:

  1. Buka laporan Performance.
  2. Pilih rentang tanggal yang sesuai.
  3. Filter berdasarkan URL halaman yang telah diperbaiki.
  4. Catat jumlah klik dan impressions.
  5. Bandingkan performa sebelum dan setelah perbaikan dengan mempertimbangkan rentang waktu yang sebanding.
  6. Periksa laporan Pages jika ingin mengetahui perubahan status pengindeksan.

Pantau Perkembangan melalui Google Search Console

Perubahan performa tidak selalu disebabkan oleh internal link. Posisi pencarian dapat dipengaruhi kualitas konten, persaingan, perubahan algoritma, musim pencarian, dan faktor lainnya.

Jangan mengharapkan peningkatan ranking secara instan. Gunakan data tersebut untuk menilai apakah halaman tetap relevan, dapat ditemukan, dan memberikan manfaat bagi pengunjung.

Kesalahan yang Harus Dihindari saat Memperbaiki Orphan Pages

Beberapa kesalahan berikut dapat membuat audit menjadi kurang efektif.

1. Mengandalkan sitemap saja

Sitemap membantu menemukan URL, tetapi tidak membuktikan bahwa URL tersebut mempunyai internal link masuk.

2. Menambahkan tautan secara acak

Internal link harus sesuai konteks. Jangan menautkan artikel tentang hosting ke artikel tanaman hanya demi mengurangi jumlah orphan pages.

3. Menghubungkan halaman yang seharusnya tidak dipertahankan

Evaluasi kualitas, kegunaan, duplikasi, dan status teknis sebelum memutuskan untuk menambahkan link.

4. Mengabaikan status HTTP

Halaman yang menghasilkan 404 atau mengalami masalah server perlu ditangani terlebih dahulu. Jangan menganggap semua masalah dapat diselesaikan dengan menambahkan internal link.

5. Menggunakan anchor text berlebihan

Tidak perlu mengulang keyword target secara berlebihan. Gunakan frasa yang natural dan menggambarkan halaman tujuan.

6. Tidak melakukan crawling ulang

Tanpa audit ulang, Anda tidak dapat memastikan bahwa crawler sudah menemukan halaman melalui jalur internal yang baru.

Kesimpulan

Cara menemukan orphan pages dan menghubungkannya dengan internal link dimulai dari mengumpulkan daftar URL, melakukan crawling website, membandingkan data dari sitemap dan Google Search Console, kemudian memverifikasi halaman yang tidak memiliki tautan internal masuk.

Setelah halaman yang perlu diperbaiki teridentifikasi, pilih artikel sumber yang relevan, tambahkan internal link dengan anchor text yang jelas, lalu lakukan crawling ulang untuk memastikan perbaikan berhasil.

Bagi website yang memiliki banyak artikel, proses ini sebaiknya dilakukan secara berkala. Dengan struktur internal link yang terencana, halaman penting lebih mudah ditemukan oleh pembaca dan crawler, sementara hubungan antarkonten menjadi lebih jelas.

Yang terpenting, jangan hanya mengejar angka orphan pages hingga nol. Prioritaskan halaman yang benar-benar bermanfaat, pertahankan relevansi tautan, dan pastikan setiap internal link membantu pengguna memperoleh informasi tambahan yang dibutuhkan.

Baca Juga : 10 Cara Menemukan dan Memperbaiki Broken Internal Link di Website

Bagikan:

Tags

Joko Warino

Seorang blogger yang mendalami dunia SEO (Search Engine Optimization) dari tahun 2012 hingga saat ini dan terus belajar memahami perkembangan logaritma yang terus di update oleh Google.

Tinggalkan komentar