Desain website bukan hanya persoalan membuat tampilan yang menarik.
Website yang baik juga harus mudah digunakan, nyaman dibaca, cepat diakses, dapat ditampilkan dengan baik pada berbagai perangkat, serta mempunyai struktur yang membantu mesin pencari memahami isi halaman.
Karena itu, ketika membuat website, aspek desain dan SEO sebaiknya tidak dipisahkan.
Keduanya perlu dirancang sejak awal agar website mampu memberikan pengalaman yang baik kepada pengunjung sekaligus mempunyai fondasi yang kuat untuk memperoleh visibilitas di mesin pencari.
SEO sendiri merupakan proses untuk membantu mesin pencari memahami konten dan membantu pengguna menemukan website melalui hasil pencarian yang relevan.
Jika ingin memahami konsep dasarnya terlebih dahulu, Anda dapat membaca artikel apa itu SEO untuk mengetahui pengertian, manfaat, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan optimasi mesin pencari.

Dalam praktiknya, masih banyak pemilik website yang menganggap desain SEO friendly hanya berkaitan dengan penggunaan keyword, heading, atau nama file gambar. Padahal, desain website SEO friendly mempunyai cakupan yang jauh lebih luas.
Pengalaman pengguna, struktur informasi, navigasi, kecepatan, tampilan mobile, kualitas konten, internal link, hingga aspek teknis perlu diperhatikan secara bersamaan.
Artikel lama mengenai kriteria desain website SEO friendly telah membahas sembilan aspek, yaitu user experience, layout website, navigasi, tags, keywords, konten komprehensif, internal dan external link, mobile friendly, serta optimasi nama file.
Kriteria tersebut masih mempunyai dasar yang relevan, tetapi beberapa bagian perlu diperbarui agar tidak lagi terlalu berorientasi pada teknik SEO lama.
Pahami Kriteria Desain Website SEO Friendly
Berikut kriteria desain website SEO friendly yang dapat digunakan sebagai acuan ketika membuat website baru maupun memperbarui website lama.
1. User Experience yang Baik
User experience atau UX merupakan salah satu aspek paling penting dalam desain website.
UX berkaitan dengan keseluruhan pengalaman pengguna ketika berinteraksi dengan website, mulai dari pertama kali membuka halaman hingga menemukan informasi yang mereka butuhkan.

Website seharusnya tidak membuat pengunjung berpikir terlalu keras untuk memahami cara menggunakannya. Menu harus mudah ditemukan, teks harus mudah dibaca, tombol harus jelas, dan halaman harus mempunyai struktur yang logis.
Misalnya, seseorang datang ke website melalui Google setelah mencari informasi tertentu. Ketika halaman terbuka, pengguna harus segera mengetahui apakah halaman tersebut memang menjawab kebutuhannya.
Judul yang jelas, pengantar yang relevan, dan struktur pembahasan yang baik dapat membantu pengguna menentukan apakah mereka berada di halaman yang tepat.
UX juga berkaitan dengan kenyamanan visual. Gunakan kombinasi warna yang mudah dibaca, ukuran font yang sesuai, jarak antarparagraf yang cukup, dan desain yang tidak terlalu ramai.
Hindari penggunaan elemen yang mengganggu, seperti pop-up yang muncul berkali-kali, iklan yang menutupi konten utama, atau animasi berlebihan.
Elemen tersebut mungkin mempunyai tujuan tertentu, tetapi jika mengganggu pengguna, pengalaman halaman menjadi kurang baik.
User experience juga harus dipertimbangkan ketika melakukan update artikel lama. Jika artikel mempunyai informasi yang sudah tidak relevan, link rusak, gambar tidak tampil, atau struktur pembahasan sulit dipahami, pembaruan konten dapat menjadi kesempatan untuk memperbaikinya.
Dengan demikian, desain website SEO friendly harus dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah website tersebut mudah digunakan oleh manusia?
2. Layout Website yang Terstruktur
Layout menentukan bagaimana informasi disusun dan ditampilkan kepada pengunjung. Layout yang baik membantu pengguna memahami bagian mana yang paling penting dan bagaimana mereka harus membaca halaman.
Dalam artikel, misalnya, judul utama harus terlihat jelas. Setelah itu, pembaca dapat diarahkan menuju pengantar, subjudul, paragraf pembahasan, gambar, tabel, daftar, dan kesimpulan.
Gunakan hierarki visual yang konsisten. H1 harus terlihat sebagai judul utama, sedangkan H2 dan H3 digunakan untuk membagi pembahasan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Jangan membuat halaman terlalu padat. Penggunaan white space atau ruang kosong dapat membantu memisahkan setiap bagian sehingga pembaca tidak merasa berhadapan dengan blok teks yang terlalu besar.
Layout juga perlu disesuaikan dengan jenis konten. Artikel tutorial dapat menggunakan daftar bernomor atau langkah-langkah, sementara artikel informatif dapat menggunakan kombinasi paragraf, tabel, gambar, dan daftar poin.
Struktur artikel yang baik pada akhirnya membantu pembaca memahami informasi dengan lebih cepat. Jika ingin membahas aspek ini secara lebih mendalam, Anda dapat membaca artikel cara menyusun struktur artikel SEO.
Jadi, layout SEO friendly bukan berarti memasukkan sebanyak mungkin elemen ke dalam halaman. Layout yang baik justru membuat informasi penting lebih mudah ditemukan.
3. Navigasi dan Arsitektur Website yang Jelas
Navigasi membantu pengguna berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya. Navigasi juga membantu mesin pencari memahami hubungan antarhalaman dalam sebuah website.
Menu utama sebaiknya dibuat sederhana dan berisi halaman atau kategori yang penting. Hindari membuat menu terlalu panjang karena dapat membuat pengguna kesulitan menentukan pilihan.
Untuk website yang memiliki banyak artikel, pengelompokan berdasarkan kategori menjadi sangat penting. Artikel dengan topik yang berhubungan sebaiknya ditempatkan dalam kategori atau struktur yang sesuai.

Misalnya, website yang membahas digital marketing dapat mempunyai kategori SEO, content marketing, social media marketing, dan advertising.
Di dalam kategori SEO, artikel dapat dikelompokkan lagi berdasarkan topik seperti SEO On Page, keyword, technical SEO, dan link building.
Breadcrumb juga dapat digunakan untuk membantu pengguna mengetahui posisi mereka di dalam website. Contohnya:
Beranda → SEO → SEO On Page → Artikel
Selain itu, website dengan banyak halaman sebaiknya mempunyai fitur pencarian internal. Fitur tersebut memungkinkan pengguna langsung mencari informasi tanpa harus membuka menu satu per satu.
Sitemap juga penting dari sisi teknis karena membantu mesin pencari menemukan URL yang tersedia di website.
Arsitektur website yang baik pada akhirnya membuat hubungan antarkonten menjadi lebih jelas. Hal ini juga memudahkan pengunjung menemukan artikel lain yang masih berhubungan dengan informasi yang sedang dibaca.
4. Website Cepat dan Memperhatikan Core Web Vitals
Kecepatan website merupakan bagian penting dari pengalaman pengguna. Pengunjung biasanya tidak ingin menunggu terlalu lama hanya untuk melihat isi sebuah halaman.
Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan website menjadi lambat, seperti ukuran gambar terlalu besar, penggunaan JavaScript berlebihan, terlalu banyak plugin, script pihak ketiga, hosting yang kurang memadai, serta konfigurasi caching yang belum optimal.
Karena itu, performa website perlu diperiksa secara berkala.
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah Core Web Vitals. Metrik tersebut mencakup LCP, INP, dan CLS yang digunakan untuk melihat beberapa aspek pengalaman pengguna ketika halaman dimuat dan digunakan.
LCP berkaitan dengan pemuatan elemen utama halaman. INP berkaitan dengan respons halaman terhadap interaksi pengguna. Sementara itu, CLS berkaitan dengan stabilitas visual agar elemen halaman tidak tiba-tiba bergeser ketika sedang digunakan.
Optimasi dapat dilakukan dengan mengompresi gambar, mengurangi script yang tidak diperlukan, memperbaiki caching, mengoptimalkan CSS dan JavaScript, serta menggunakan hosting yang memadai.

Pembahasan mengenai optimasi teknis website dapat diperluas melalui artikel teknik SEO WordPress yang membahas sejumlah aspek teknis seperti hosting, SSL, optimasi kecepatan, caching, Google Search Console, dan sitemap.
Namun, jangan hanya mengejar nilai tertentu dari alat pengujian kecepatan. Tujuan utama optimasi tetap memberikan pengalaman yang cepat dan nyaman kepada pengguna.
5. Mobile Friendly dan Responsive Design
Website harus dapat digunakan dengan baik melalui perangkat mobile.
Saat ini, pengunjung dapat mengakses website melalui smartphone dengan berbagai ukuran layar.
Karena itu, website harus mampu menyesuaikan tampilan tanpa membuat pengguna harus melakukan zoom atau menggulir halaman secara horizontal.
Responsive design memungkinkan layout menyesuaikan ukuran layar perangkat.

Beberapa elemen yang perlu diperiksa antara lain:
- Ukuran teks;
- Ukuran tombol;
- Menu navigasi;
- Gambar;
- Tabel;
- Video;
- Formulir;
- Iklan;
- Dan elemen interaktif.
Pastikan tombol cukup mudah disentuh menggunakan jari. Link yang terlalu berdekatan dapat menyulitkan pengguna ketika menggunakan smartphone.
Gambar juga harus menyesuaikan lebar layar. Jangan sampai gambar berukuran terlalu besar sehingga keluar dari area halaman.
Tabel perlu mendapatkan perhatian khusus. Tabel yang terlalu lebar dapat menyebabkan tampilan website tidak nyaman pada layar kecil. Dalam kondisi tertentu, tabel dapat dibuat agar dapat digeser secara horizontal tanpa merusak layout keseluruhan.
Mobile friendly bukan lagi sekadar fitur tambahan. Desain website sebaiknya sejak awal mempertimbangkan perangkat mobile.
Karena itu, setiap kali membuat perubahan desain, lakukan pengujian pada desktop sekaligus smartphone.
6. Konten People-First yang Relevan dan Bermanfaat
Desain website tidak akan memberikan hasil maksimal jika konten yang ditampilkan tidak berkualitas.
Konten harus dibuat terutama untuk membantu pembaca. Jangan membuat artikel hanya karena ingin mengejar keyword tertentu.
Sebelum membuat konten, pahami terlebih dahulu kebutuhan pengguna dan search intent.
Sebagai contoh, orang yang mencari “apa itu SEO” kemungkinan membutuhkan penjelasan dasar. Sementara orang yang mencari “cara optimasi SEO On Page“ mungkin membutuhkan panduan yang lebih praktis.

Konten juga tidak harus selalu sangat panjang. Artikel yang panjang tetapi berisi pengulangan tidak otomatis lebih baik daripada artikel yang lebih singkat tetapi mampu memberikan jawaban secara lengkap.
Yang lebih penting adalah apakah pembaca memperoleh informasi yang mereka butuhkan.
Konten yang baik sebaiknya mempunyai tujuan yang jelas, menggunakan sumber yang dapat dipercaya ketika diperlukan, memberikan penjelasan yang mudah dipahami, serta tidak menambahkan informasi yang tidak berhubungan hanya untuk memperpanjang artikel.
Konsep ini juga berarti pemilik website perlu mengevaluasi artikel lama. Jika informasi sudah berubah, data tidak lagi akurat, atau kebutuhan pembaca telah berkembang, artikel sebaiknya diperbarui.
Karena itu, desain website SEO friendly harus memberikan ruang yang cukup untuk menyajikan konten secara jelas dan nyaman.
7. Struktur Heading yang Logis
Heading membantu membentuk struktur informasi di dalam halaman.
H1 biasanya digunakan sebagai judul utama, sedangkan H2 digunakan untuk bagian utama dan H3 untuk subbagian yang berada di bawah H2.
Contohnya:
- H1: 11 Kriteria Desain Website SEO Friendly
- H2: User Experience
- H2: Layout Website
- H2: Navigasi Website
- H3: Struktur Menu
- H3: Breadcrumb

Struktur tersebut membantu pembaca memahami isi artikel tanpa harus membaca seluruh paragraf terlebih dahulu.
Heading juga membantu pengguna melakukan scanning. Sebagian pembaca akan melihat subjudul terlebih dahulu untuk mencari bagian yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Namun, jangan menggunakan heading hanya sebagai tempat memasukkan keyword. Heading harus benar-benar menggambarkan pembahasan yang ada di bawahnya.
Gunakan bahasa yang jelas dan informatif. Hindari heading yang terlalu umum apabila dapat dibuat lebih spesifik.
Misalnya, daripada menggunakan:
“Informasi Lainnya”
lebih baik menggunakan:
“Cara Mempercepat Website”
jika bagian tersebut memang membahas cara mempercepat website.
Dengan struktur heading yang logis, artikel menjadi lebih mudah dibaca dan dipahami.
8. Title, Meta Description, dan URL yang Relevan
Elemen SEO pada halaman tetap perlu diperhatikan dalam desain website.
Title harus menggambarkan isi halaman secara jelas. Judul sebaiknya dibuat unik dan tidak dipenuhi pengulangan keyword.
Meta description juga perlu memberikan ringkasan mengenai isi halaman. Tujuannya agar pengguna dapat memahami gambaran informasi yang akan mereka temukan ketika membuka halaman.
URL sebaiknya dibuat sederhana dan mudah dipahami.
Contohnya:
jokowa.id/panduan-membuat-website/

Url tersebt lebih mudah dipahami dibandingkan URL yang berisi rangkaian karakter atau parameter yang tidak memberikan informasi mengenai topik halaman.
Namun, optimasi elemen tersebut jangan dilakukan secara berlebihan.
Tidak perlu memasukkan semua variasi keyword ke dalam title. Jangan membuat meta description yang hanya berupa daftar kata kunci. Jangan pula mengubah URL berkali-kali tanpa alasan yang jelas.
Elemen-elemen tersebut sebaiknya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan halaman, bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri.
9. Penggunaan Keyword Secara Natural
Keyword tetap menjadi bagian dari SEO, tetapi cara penggunaannya perlu diperhatikan.
Jangan menganggap bahwa semakin sering sebuah keyword digunakan, semakin baik pula SEO halaman.
Penggunaan keyword secara berlebihan dapat membuat tulisan terasa tidak natural. Pembaca akan merasa bahwa artikel dibuat untuk mesin pencari, bukan untuk manusia.
Gunakan keyword ketika memang sesuai dengan konteks.
Keyword utama dapat digunakan pada judul atau bagian penting halaman jika memang relevan. Variasi istilah dan kata yang berhubungan juga dapat digunakan secara alami dalam pembahasan.
Sebelum menentukan keyword, lakukan riset terlebih dahulu. Pahami apa yang dicari pengguna, bagaimana maksud pencariannya, serta apakah topik tersebut memang sesuai dengan website.
Untuk mempelajari prosesnya, Anda dapat membaca artikel tips melakukan riset keyword yang membahas cara menemukan dan menentukan keyword yang relevan.
Hal terpenting adalah jangan menulis kalimat yang terasa aneh hanya demi memasukkan keyword.
Misalnya, tidak perlu mengulang kata “desain website SEO friendly” dalam setiap kalimat.

Lebih baik menggunakan istilah tersebut ketika memang dibutuhkan, kemudian membahas aspek terkait menggunakan bahasa yang natural.
SEO yang baik bukan tentang memaksa keyword muncul sebanyak mungkin, tetapi tentang membuat halaman yang secara keseluruhan relevan dengan topik dan kebutuhan pencarian pengguna.
10. Internal Link dan External Link yang Kontekstual
Internal link membantu pengguna menemukan halaman lain yang masih berkaitan dengan informasi yang sedang dibaca.
Penempatan internal link sebaiknya dilakukan secara kontekstual. Jangan memasukkan banyak link sekaligus hanya untuk meningkatkan jumlah tautan.
Sebagai contoh, ketika sedang membahas struktur artikel, Anda dapat mengarahkan pembaca ke artikel lain yang memang membahas struktur artikel secara lebih mendalam.
Anchor text juga sebaiknya memberikan gambaran mengenai halaman tujuan.
Misalnya:
cara menyusun struktur artikel SEO
lebih informatif daripada:
klik di sini
Internal link juga dapat membantu membangun hubungan antarkonten. Artikel yang membahas topik utama dapat terhubung dengan artikel pendukung, sehingga pembaca mempunyai jalur untuk mempelajari topik secara lebih mendalam.
Untuk website dengan banyak artikel, strategi ini dapat membentuk topical cluster.

Namun, jumlah internal link tidak perlu berlebihan. Yang lebih penting adalah relevansi.
External link juga dapat digunakan ketika Anda perlu mengarahkan pembaca ke sumber lain yang dapat memperkuat informasi. Gunakan sumber yang relevan dan dapat dipercaya.
Dengan demikian, strategi link sebaiknya berorientasi pada manfaat bagi pengguna, bukan sekadar jumlah link yang terdapat di halaman.
11. Optimasi Gambar, Aksesibilitas, Keamanan, dan Elemen Teknis
Gambar merupakan bagian penting dari desain website, terutama pada artikel informatif.
Gambar sebaiknya mempunyai hubungan langsung dengan pembahasan. Jangan menggunakan gambar hanya sebagai dekorasi jika tidak memberikan nilai tambah.
Ukuran file juga perlu diperhatikan. Gambar dengan ukuran terlalu besar dapat memperlambat halaman.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengompresi gambar;
- Memilih format yang sesuai;
- Menggunakan ukuran gambar yang tepat;
- Memberikan nama file yang deskriptif;
- Menggunakan alt text yang relevan;
- Dan memastikan gambar tampil dengan baik pada perangkat mobile.

Alt text sebaiknya menjelaskan isi atau fungsi gambar. Jangan menjadikannya tempat memasukkan keyword secara berlebihan.
Misalnya, jika gambar memperlihatkan struktur akar tanaman persik, alt text dapat menjelaskan isi gambar tersebut secara langsung.
Selain gambar, perhatikan aspek aksesibilitas. Pastikan warna mempunyai kontras yang cukup, teks mudah dibaca, tombol dapat dikenali, dan elemen penting tidak hanya dibedakan berdasarkan warna.
Keamanan juga perlu diperhatikan. Website sebaiknya menggunakan HTTPS dan menjaga sistem, plugin, tema, serta komponen lainnya tetap diperbarui.
Dari sisi teknis SEO, periksa pula sitemap, robots.txt, canonical, broken link, redirect, indexability, dan struktur URL.
Hal-hal tersebut memang tidak selalu terlihat oleh pengunjung, tetapi dapat memengaruhi bagaimana website dikelola dan ditemukan oleh mesin pencari.
Kesimpulan
Desain website SEO friendly bukan sekadar mengatur tampilan, memasukkan keyword, atau menggunakan heading, tetapi merupakan pendekatan menyeluruh yang mencakup user experience, kualitas konten, layout, navigasi, performa, mobile friendly, struktur heading, title dan meta description, keyword, internal link, gambar, serta aspek teknis.
Pengalaman pengguna dan kualitas konten harus menjadi dasar utama, sedangkan elemen SEO membantu mesin pencari menemukan, memahami, dan merayapi halaman dengan lebih baik.
Keyword dan internal link sebaiknya digunakan secara natural dan relevan tanpa berlebihan agar tetap memberikan pengalaman yang baik bagi pengunjung.
Website perlu dievaluasi dan diperbarui secara berkala karena teknologi, perangkat, konten, dan kebutuhan pengguna terus berubah.
Pada akhirnya, tujuan desain website SEO friendly bukan hanya mendapatkan peringkat tinggi di Google, tetapi membangun website yang mudah ditemukan, dipahami, digunakan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi pengunjung.







