Tutorial Lengkap Membuat Subdomain di cPanel untuk Website

Joko Warino

Tutorial Lengkap Membuat Subdomain di cPanel untuk Website

Subdomain adalah alamat website tambahan yang dibuat dari domain utama sehingga Anda dapat menyediakan bagian website dengan fungsi berbeda tanpa membeli domain baru.

Misalnya, dari domain domainanda.com, Anda dapat membuat blog.domainanda.com untuk blog, shop.domainanda.com untuk toko online, app.domainanda.com untuk aplikasi, atau forum.domainanda.com untuk forum komunitas.

Subdomain sangat berguna untuk memisahkan berbagai kebutuhan dalam satu website, karena setiap subdomain dapat memiliki folder, file, dan konfigurasi sendiri sesuai pengaturan hosting.

Pada hosting yang menggunakan cPanel, pembuatan subdomain relatif mudah karena pengelolaan domain, file, DNS, SSL, dan konfigurasi lainnya dapat dilakukan melalui satu panel.

Jika Anda masih memilih layanan hosting, Anda juga dapat membaca 26 rekomendasi share hosting terbaik di Indonesia sebagai referensi sebelum menentukan provider.

Apa Itu Subdomain?

Sebelum masuk ke tutorial, pahami terlebih dahulu struktur alamat subdomain.

Misalnya domain utama Anda adalah:

domainanda.com

Kemudian Anda membuat:

blog.domainanda.com

Kata blog merupakan subdomain, sedangkan domainanda.com adalah domain utama.

Berbeda dengan membeli domain baru, subdomain masih menggunakan domain utama yang sama. Karena itu, Anda tidak perlu membeli domain tambahan untuk membuat blog.domainanda.com.

Subdomain juga dapat digunakan untuk website yang berbeda. Contohnya, domain utama digunakan untuk website perusahaan, sedangkan subdomain digunakan untuk blog atau aplikasi.

Cara Membuat Subdomain di cPanel Dengan Mudah

Berikut adalah cara untuk membuat subdomain dengan mudah, pemula pasti bisa melakukannya :

1. Login ke cPanel

Langkah pertama adalah masuk ke akun hosting yang digunakan.

Buka halaman login cPanel melalui alamat yang diberikan oleh provider hosting. Masukkan username dan password, kemudian login.

Login ke cPanel

Setelah berhasil masuk, Anda akan melihat dashboard cPanel yang berisi berbagai fitur seperti File Manager, Domains, DNS Zone Editor, SSL/TLS, database, email, dan pengaturan hosting lainnya.

Jika Anda ingin memahami lebih jauh mengenai fungsi control panel, Anda juga dapat membaca artikel rekomendasi control panel VPS terbaik.

2. Buka Menu Domains

Setelah masuk ke dashboard cPanel, cari menu Domains.

Klik menu tersebut untuk membuka halaman pengelolaan domain.

Buka Menu Domains

Pada cPanel versi modern, pembuatan subdomain umumnya sudah terintegrasi dengan menu Domains.

Jadi, Anda mungkin tidak menemukan menu khusus bernama Subdomains seperti pada tutorial cPanel versi lama.

Jika tutorial lama meminta Anda membuka menu Subdomains, tidak perlu bingung. Pada tampilan cPanel yang lebih baru, proses tersebut dapat dilakukan melalui menu Domains.

3. Klik Create a New Domain

Setelah halaman Domains terbuka, cari tombol Create a New Domain.

Klik tombol tersebut untuk membuka formulir penambahan domain.

Pada tahap ini, cPanel dapat menggunakan formulir yang sama untuk menambahkan domain maupun membuat subdomain, tergantung konfigurasi hosting yang digunakan.

Karena itu, pastikan alamat yang dimasukkan sudah benar sebelum melanjutkan.

4. Masukkan Nama Subdomain

Misalnya domain utama Anda adalah:

domainanda.com

Anda ingin membuat subdomain untuk blog:

blog.domainanda.com

Masukkan alamat tersebut pada kolom domain.

Setelah itu, perhatikan bagian Document Root.

Document Root merupakan lokasi folder di server yang digunakan untuk menyimpan file website subdomain.

Contohnya:

/public_html/blog

Dengan konfigurasi tersebut, file website yang berada di folder blog akan digunakan ketika seseorang membuka:

blog.domainanda.com

Masukkan Nama Subdomain

5. Jangan Salah Memilih Share Document Root

Pada formulir pembuatan domain, Anda mungkin melihat pilihan Share document root.

Jika subdomain akan digunakan sebagai website terpisah dari domain utama, sebaiknya jangan mengaktifkan pilihan tersebut.

Dengan document root terpisah, file website dapat disimpan secara mandiri.

Contohnya:

public_html/
├── index.php
├── wp-admin/
├── wp-content/
└── blog/
    ├── index.php
    └── assets/

Dalam struktur tersebut, file yang berada di public_html digunakan oleh domain utama, sedangkan folder blog digunakan oleh subdomain.

Pemisahan folder seperti ini akan memudahkan pengelolaan apabila subdomain nantinya memiliki website, CMS, atau file yang berbeda.

6. Buat Subdomain

Setelah nama subdomain dan Document Root diperiksa, klik Submit atau Create, tergantung tampilan cPanel.

cPanel kemudian memproses konfigurasi tersebut.

Jika berhasil, subdomain akan muncul dalam daftar domain yang tersedia pada akun hosting.

Misalnya Anda membuat:

blog.domainanda.com

dengan Document Root:

public_html/blog

maka folder tersebut menjadi lokasi utama website blog.

Buat Subdomain

7. Periksa Folder Subdomain melalui File Manager

Setelah subdomain dibuat, periksa apakah folder Document Root sudah tersedia.

Kembali ke halaman utama cPanel, kemudian buka File Manager.

Masuk ke:

public_html

Kemudian cari folder:

blog

Sehingga lokasinya menjadi:

public_html/blog

Folder tersebut merupakan Document Root subdomain.

Untuk website HTML sederhana, Anda dapat menempatkan:

index.html

Sedangkan website berbasis PHP dapat menggunakan:

index.php.

Contoh struktur:

public_html/blog/
├── index.php
├── style.css
├── script.js
└── images/

Periksa Folder Subdomain melalui File Manager

8. Upload Website ke Subdomain

Setelah folder tersedia, upload file website ke dalam Document Root tersebut.

Jika menggunakan HTML, letakkan index.html di:

public_html/blog

Jika menggunakan PHP, file utama dapat berupa:

index.php

Apabila Anda ingin memasang WordPress, proses instalasi harus diarahkan ke subdomain dan folder yang sesuai.

Contohnya, jika subdomain menggunakan:

public_html/blog

maka file website harus berada di folder tersebut, bukan secara tidak sengaja dimasukkan ke public_html.

Kesalahan lokasi file dapat menyebabkan subdomain menampilkan website yang salah, halaman kosong, atau halaman default hosting.

Untuk pengelolaan website berbasis WordPress, pemilihan hosting dan resource juga penting. Jika website mulai menggunakan banyak file atau aplikasi, perhatikan penggunaan resource hosting secara berkala.

9. Periksa DNS Subdomain

Setelah subdomain dibuat, periksa konfigurasi DNS.

Pada banyak layanan hosting, pembuatan subdomain melalui cPanel akan membuat record DNS yang diperlukan secara otomatis.

Untuk memeriksanya, buka Zone Editor di cPanel dan pilih domain utama.

Cari record yang berkaitan dengan subdomain, misalnya:

blog.domainanda.com

Record tersebut harus mengarah ke server yang benar.

Secara sederhana, DNS berfungsi memberitahu internet server mana yang harus digunakan ketika seseorang mengakses subdomain.

Namun, konfigurasi dapat berbeda apabila DNS domain tidak dikelola melalui cPanel.

DNS Subdomain

Misalnya domain menggunakan Cloudflare atau layanan DNS eksternal. Dalam kondisi tersebut, record DNS mungkin harus diperiksa atau dibuat melalui panel DNS eksternal.

Jika folder subdomain sudah benar tetapi alamatnya belum dapat diakses, DNS merupakan salah satu bagian pertama yang perlu diperiksa.

10. Tunggu Propagasi DNS

Perubahan DNS tidak selalu langsung terlihat pada semua jaringan.

Setelah membuat atau mengubah record DNS, diperlukan waktu untuk proses propagasi dan pembaruan cache DNS.

Dalam kondisi tertentu, subdomain dapat langsung aktif. Namun pada kondisi lain, Anda mungkin perlu menunggu sebelum alamat tersebut dapat diakses secara normal.

Jika subdomain baru dibuat tetapi belum dapat dibuka, jangan langsung menghapus dan membuat ulang subdomain.

Periksa terlebih dahulu:

  1. Record DNS.
  2. Arah server.
  3. Document Root.
  4. Folder website.
  5. Status SSL.

Jika resource hosting mulai terbatas, pemeriksaan penggunaan inode juga penting. Anda dapat mengikuti cara mengecek inode hosting di cPanel untuk mengetahui apakah jumlah file dan folder sudah mendekati batas paket.

11. Aktifkan SSL/HTTPS

Setelah DNS dan subdomain mengarah dengan benar, pastikan koneksi HTTPS sudah aktif.

Buka menu SSL/TLS Status di cPanel.

Jika provider mendukung AutoSSL, sertifikat SSL untuk subdomain biasanya dapat diterbitkan secara otomatis.

Periksa DNS Subdomain

Setelah aktif, subdomain dapat diakses menggunakan:

https://blog.domainanda.com

HTTPS penting karena mengenkripsi komunikasi antara browser pengunjung dan server.

Selain keamanan, HTTPS juga memberikan kepercayaan lebih kepada pengunjung.

12. Tes Subdomain melalui Browser

Setelah seluruh konfigurasi selesai, buka browser dan masukkan:

https://blog.domainanda.com

Jika halaman website tampil dengan benar, berarti subdomain sudah berhasil dibuat dan diarahkan ke folder yang sesuai.

Anda juga dapat mencoba:

http://blog.domainanda.com

untuk mengetahui apakah HTTP sudah diarahkan ke HTTPS apabila pengalihan tersebut telah dikonfigurasi.

Tes Subdomain melalui Browser

Penyebab Subdomain Tidak Bisa Dibuka

Jika subdomain belum dapat diakses, beberapa penyebab berikut perlu diperiksa.

1. DNS Belum Benar

DNS yang belum mengarah ke server hosting dapat menyebabkan browser tidak menemukan server yang tepat.

Periksa record melalui Zone Editor atau panel DNS eksternal.

2. Document Root Salah

Pastikan Document Root sesuai dengan lokasi file website.

Contohnya:

public_html/blog

Jika website sebenarnya berada di folder lain, subdomain tidak akan menampilkan konten yang diharapkan.

3. Tidak Ada File Index

Pastikan folder memiliki file utama seperti:

index.html

atau:

index.php

Tanpa file index, server dapat menampilkan error, halaman default, atau daftar direktori tergantung konfigurasi server.

4. SSL Belum Aktif

Jika browser menampilkan peringatan keamanan saat menggunakan HTTPS, periksa status sertifikat pada menu SSL/TLS Status.

5. Permission Bermasalah

Permission file dan folder yang salah dapat menyebabkan error seperti 403 Forbidden.

Periksa permission apabila DNS, SSL, dan Document Root sudah benar tetapi website tetap tidak dapat dibuka.

Arti Error yang Mungkin Muncul

Beberapa pesan error dapat membantu menemukan sumber masalah.

  • 404 Not Found biasanya berkaitan dengan halaman atau file yang tidak ditemukan. Periksa Document Root dan file index.
  • 403 Forbidden berarti server menolak akses. Penyebabnya dapat berkaitan dengan permission, .htaccess, atau aturan keamanan server.
  • DNS_PROBE_FINISHED_NXDOMAIN biasanya menunjukkan masalah resolusi DNS. Periksa apakah record subdomain sudah tersedia dan benar.

Jika muncul halaman default hosting, kemungkinan subdomain sudah mengarah ke server tetapi Document Root atau isi folder belum sesuai.

Contoh Struktur Beberapa Subdomain

Misalnya Anda mempunyai:

domainanda.com
blog.domainanda.com
shop.domainanda.com
app.domainanda.com

Foldernya dapat dibuat terpisah:

public_html/
├── index.php
├── blog/
│   └── index.php
├── shop/
│   └── index.php
└── app/
    └── index.php

Dengan struktur tersebut, masing-masing subdomain dapat digunakan untuk kebutuhan berbeda.

blog.domainanda.com dapat digunakan untuk artikel, shop.domainanda.com untuk toko online, sedangkan app.domainanda.com dapat digunakan untuk aplikasi web.

Jika website memiliki banyak subdomain, pastikan kapasitas dan resource hosting mencukupi. Penggunaan storage, inode, CPU, RAM, dan resource lainnya dapat meningkat seiring bertambahnya website.

Untuk membantu menentukan kebutuhan hosting, Anda juga dapat melihat panduan cara memilih hosting yang tepat untuk website.

Kesimpulan

Cara membuat subdomain di cPanel sebenarnya cukup sederhana. Anda tidak perlu membeli domain baru karena subdomain masih menggunakan domain utama.

Tahapan utamanya adalah membuka Domains, memilih Create a New Domain, memasukkan alamat subdomain, menentukan Document Root, kemudian membuat subdomain.

Setelah itu, periksa folder melalui File Manager, upload file website, pastikan DNS sudah mengarah dengan benar, aktifkan SSL, dan lakukan pengujian melalui browser.

Hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah nama subdomain, Document Root, DNS, file index, dan SSL. Jika salah satu bagian tersebut bermasalah, subdomain dapat gagal menampilkan website.

Dengan konfigurasi yang tepat, Anda dapat menggunakan beberapa subdomain untuk memisahkan fungsi website, misalnya blog, toko online, aplikasi, forum, atau layanan lainnya tanpa harus membeli domain tambahan.

Bagikan:

Tags

Joko Warino

Seorang blogger yang mendalami dunia SEO (Search Engine Optimization) dari tahun 2012 hingga saat ini dan terus belajar memahami perkembangan logaritma yang terus di update oleh Google.

Tinggalkan komentar