Kunjungan website yang rendah tidak selalu berarti konten yang dibuat kurang berkualitas, karena masalahnya bisa berasal dari keyword yang dipilih sejak awal.
Keyword menentukan bagaimana sebuah halaman ditemukan pengguna melalui mesin pencari, sekaligus memengaruhi seberapa besar peluang website mendapatkan traffic organik.
Keyword dengan pencarian rendah, terlalu kompetitif, atau tidak sesuai dengan search intent dapat membuat artikel sulit mendapatkan pengunjung meskipun pembahasannya sudah lengkap.
Sebaliknya, pemilihan keyword yang relevan, memiliki peluang pencarian, dan sesuai kebutuhan pengguna dapat membantu meningkatkan visibilitas website di hasil pencarian.
Oleh karena itu, sebelum terus membuat artikel baru, penting untuk mengevaluasi apakah keyword yang digunakan benar-benar memiliki potensi untuk mendatangkan traffic.
Jika ingin memahami dasar optimasi mesin pencari terlebih dahulu, Anda dapat mempelajari Apa Itu SEO? Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Manfaat, dan Cara Menerapkannya
Keyword Menentukan Seberapa Besar Potensi Traffic
Keyword merupakan dasar penting dalam SEO yang menghubungkan pencarian pengguna dengan konten website.
Pemilihan keyword yang tepat membantu website menjangkau pengguna yang membutuhkan informasi, produk, atau layanan.
Namun, setiap keyword memiliki potensi traffic berbeda, tergantung volume pencarian, tingkat persaingan, dan spesifiknya kebutuhan pengguna.
1. Apa Itu Keyword dalam SEO?
Keyword adalah kata atau frasa yang diketikkan pengguna pada mesin pencari untuk menemukan informasi tertentu.
Dalam SEO, keyword digunakan untuk memahami topik yang dicari pengguna sekaligus menentukan fokus utama sebuah halaman.
Contohnya, seseorang yang ingin belajar SEO mungkin mencari:
apa itu SEOcara belajar SEOcara optimasi SEO On Pagecara agar website muncul di Googletools riset keyword
Setiap keyword menunjukkan kebutuhan pengguna yang berbeda.
Keyword tidak hanya perlu dilihat sebagai kumpulan kata yang dimasukkan ke dalam artikel. Keyword merupakan gambaran kebutuhan, pertanyaan, atau tujuan pengguna ketika melakukan pencarian.
Untuk memahami proses menemukan dan memilih keyword secara lebih mendalam, baca juga panduan riset keyword yang efektif sebelum menentukan target utama sebuah artikel.
2. Mengapa Keyword Berpengaruh terhadap Kunjungan Website?
Keyword berpengaruh terhadap kunjungan website karena mesin pencari menggunakan berbagai sinyal untuk memahami relevansi halaman terhadap pencarian pengguna.
Jika sebuah halaman relevan dengan keyword yang dicari dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna, halaman tersebut memiliki peluang untuk muncul di hasil pencarian.
Alurnya dapat digambarkan sederhana:

Misalnya, sebuah website memiliki artikel dengan target keyword “cara membuat website”.
Ketika seseorang mencari istilah tersebut, artikel tersebut memiliki peluang untuk ditampilkan apabila Google menilai halaman tersebut relevan dan layak ditampilkan.
Namun, memiliki keyword di dalam artikel tidak otomatis membuat website mendapatkan traffic. Halaman harus mampu mendapatkan visibilitas di hasil pencarian, kemudian pengguna harus tertarik untuk mengkliknya.
Karena itu, traffic organik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan:
Potensi traffic = pencarian keyword × visibilitas × posisi ranking × CTR

Sebagai contoh, sebuah keyword mungkin memiliki banyak pencarian setiap bulan. Tetapi jika halaman website berada di posisi 50, peluang mendapatkan klik tetap kecil dibandingkan halaman yang berada di posisi teratas.
Inilah alasan mengapa pemilihan keyword harus mempertimbangkan search volume, search intent, tingkat persaingan, relevansi, dan kemampuan website untuk bersaing.
3. Hubungan Keyword dengan Search Volume
Search volume adalah perkiraan jumlah pencarian terhadap sebuah keyword dalam periode tertentu. Data ini sering digunakan dalam riset keyword untuk mengetahui seberapa besar minat pencarian terhadap suatu topik.
Misalnya, terdapat tiga keyword berikut:
| Keyword | Search Volume | Persaingan | Potensi |
|---|---|---|---|
| cara membuat website | Tinggi | Tinggi | Besar, tetapi sulit |
| cara membuat website gratis | Sedang | Sedang | Menarik |
| cara membuat website gratis untuk bisnis | Rendah | Lebih rendah | Lebih spesifik |

Dari contoh tersebut, keyword dengan search volume paling tinggi memang memiliki potensi traffic yang lebih besar. Namun, potensi tersebut tidak berarti website pasti mendapatkan traffic tinggi.
Semakin tinggi volume pencarian, biasanya semakin banyak website yang ingin mendapatkan posisi untuk keyword tersebut. Akibatnya, persaingan dapat menjadi lebih berat.
Jadi, dalam SEO, search volume sebaiknya digunakan sebagai salah satu indikator, bukan satu-satunya dasar dalam memilih keyword.
Karena itu, proses riset keyword perlu mempertimbangkan volume pencarian, persaingan, relevansi, dan tujuan pengguna secara bersamaan.
4. Keyword Banyak Dicari Belum Tentu Menghasilkan Traffic

Ada beberapa alasan mengapa keyword yang banyak dicari belum tentu menghasilkan traffic.
- Posisi ranking terlalu rendah : Jika halaman berada di posisi yang jauh dari halaman pertama, peluang mendapatkan klik akan semakin kecil meskipun keyword tersebut memiliki volume pencarian tinggi.
- Persaingan terlalu kuat : Keyword populer biasanya menjadi target banyak website. Website baru atau website dengan otoritas lebih rendah mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan posisi yang kompetitif.
- Search intent tidak sesuai : Artikel mungkin menargetkan keyword dengan volume tinggi, tetapi isi halaman tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dicari pengguna. Kondisi ini dapat membuat halaman sulit bersaing atau mendapatkan engagement yang kurang baik.
- CTR rendah : Halaman mungkin sudah muncul di Google, tetapi pengguna tidak tertarik mengkliknya. Judul yang kurang menarik, tidak jelas, atau tidak sesuai kebutuhan pencarian dapat menyebabkan impression tinggi tetapi klik rendah.
- Sebagian pencarian dapat selesai langsung di halaman hasil pencarian : Pengguna terkadang mendapatkan jawaban dari fitur hasil pencarian tanpa perlu membuka website.
Oleh karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak orang yang mencari keyword ini?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah website saya mampu mendapatkan posisi yang baik untuk keyword tersebut dan apakah orang yang mencarinya akan tertarik mengklik hasil saya?”
Inilah yang membuat keyword research bukan sekadar mencari keyword dengan volume terbesar.
Tujuan sebenarnya adalah menemukan keyword yang memiliki kombinasi antara relevansi, search intent, potensi pencarian, tingkat persaingan, dan peluang ranking.
Ciri-Ciri Keyword yang Menyebabkan Traffic Rendah
Traffic website rendah tidak selalu disebabkan kualitas artikel. Salah satu penyebabnya adalah keyword dengan potensi traffic rendah atau tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Artikel yang lengkap dan sudah terindeks Google tetap sulit mendapatkan kunjungan jika keyword jarang dicari, persaingannya tinggi, atau tidak sesuai dengan search intent.
Karena itu, sebelum menambah konten, periksa terlebih dahulu keyword yang ditargetkan.
1. Search Volume Terlalu Rendah
Search volume menunjukkan seberapa sering sebuah keyword dicari dalam periode tertentu. Semakin rendah search volume, semakin kecil potensi traffic yang bisa diperoleh artikel.
Meski artikel berada di halaman pertama Google, traffic tetap rendah jika keyword yang ditargetkan hanya memiliki sedikit pencarian.
Contohnya:
Keyword A: 10.000 pencarian/bulan
Keyword B: 500 pencarian/bulan
Keyword C: 30 pencarian/bulan
Jika ketiganya memiliki posisi ranking dan CTR yang sama, keyword dengan volume pencarian lebih tinggi memiliki peluang menghasilkan lebih banyak kunjungan.
Namun, bukan berarti keyword dengan volume rendah harus selalu dihindari. Keyword tersebut tetap bisa bernilai jika memiliki search intent yang kuat dan relevan dengan tujuan website.
Misalnya, keyword “jasa pembuatan website toko online untuk UMKM Bandung” mungkin memiliki volume lebih kecil dibandingkan “jasa pembuatan website”. Tetapi pengunjung dari keyword pertama bisa memiliki kebutuhan yang jauh lebih spesifik.
Jadi, masalahnya bukan sekadar volume rendah, tetapi apakah volume tersebut cukup untuk mendukung tujuan halaman yang dibuat.
2. Keyword Terlalu Spesifik
Keyword yang terlalu spesifik memiliki cakupan pencarian sempit sehingga potensi traffic-nya bisa rendah. Namun, long-tail keyword tetap penting karena search intent lebih jelas dan persaingannya biasanya lebih rendah.
Solusinya adalah mencari beberapa variasi keyword yang masih relevan dengan topik utama.
Keyword utama:
cara membuat toko online
Keyword turunan:
- cara membuat toko online gratis
- cara membuat toko online WordPress
- cara membuat toko online untuk pemula
- cara membuat toko online sendiri
- cara membuat website toko online

Dengan pendekatan ini, satu artikel tidak hanya bergantung pada satu keyword yang sangat spesifik.
3. Persaingan Keyword Terlalu Tinggi
Keyword dengan search volume tinggi memang menarik, tetapi biasanya juga memiliki persaingan yang lebih tinggi. Banyak website ingin mendapatkan posisi teratas untuk keyword populer karena potensi traffic-nya besar.
Misalnya, keyword:
“SEO”
memiliki cakupan sangat luas dan kemungkinan ditargetkan oleh banyak website besar.
Website baru yang langsung menargetkan keyword tersebut mungkin akan kesulitan bersaing dengan website yang sudah memiliki banyak konten berkualitas, backlink, reputasi, dan otoritas topik.
Akibatnya, artikel bisa saja sudah dibuat dengan baik tetapi tetap mendapatkan sedikit traffic karena ranking-nya belum cukup tinggi.
Strategi yang lebih realistis adalah mencari keyword yang memiliki keseimbangan antara search volume, relevansi, dan tingkat persaingan.
Misalnya, daripada langsung menargetkan:
SEO
website dapat mulai dari keyword yang lebih spesifik seperti:
cara optimasi SEO On Page
Kemudian berkembang ke keyword lain yang masih berada dalam topik yang sama.
Strategi ini membantu website membangun topical authority secara bertahap daripada langsung mengejar keyword yang sangat kompetitif.
4. Keyword Tidak Sesuai Search Intent
Search intent adalah tujuan pengguna ketika melakukan pencarian.
Untuk memahami pembahasan ini lebih lengkap, Anda dapat membaca panduan search intent dan cara mengoptimalkannya pada keyword. Keyword yang terlihat relevan belum tentu memiliki intent yang sesuai dengan isi artikel.
Misalnya, seseorang mencari:
“harga laptop gaming”
Kemungkinan pengguna tersebut ingin melihat harga atau membandingkan produk.
Jika artikel yang dibuat hanya menjelaskan:
“Apa itu laptop gaming dan bagaimana cara kerjanya?”
maka konten tersebut tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan pencarian.
Sebaliknya, jika pengguna mencari:
“apa itu SEO”
lalu halaman langsung menawarkan jasa SEO tanpa memberikan penjelasan yang memadai, konten juga tidak sesuai dengan intent pengguna.
Secara umum, search intent dapat dikelompokkan menjadi:
- Informational : ingin mendapatkan informasi.
- Navigational : ingin menemukan website atau halaman tertentu.
- Commercial : sedang mempertimbangkan produk atau layanan.
- Transactional : memiliki keinginan untuk melakukan transaksi.

Jika keyword yang dipilih tidak sesuai dengan isi dan format halaman, peluang halaman tersebut mendapatkan performa optimal dapat berkurang.
Karena itu, jangan hanya melihat keyword-nya, tetapi pahami alasan pengguna mengetik keyword tersebut di Google.
5. Keyword Tidak Sesuai Target Audiens
Keyword juga dapat menyebabkan traffic rendah apabila orang yang mencarinya bukan target audiens website.
Misalnya, sebuah website menjual jasa pembuatan website untuk perusahaan. Namun, sebagian besar kontennya menargetkan keyword:
“cara membuat blog gratis untuk pelajar”

Keyword tersebut mungkin menghasilkan traffic, tetapi pengunjungnya belum tentu membutuhkan jasa pembuatan website perusahaan.
Dalam kondisi seperti ini, angka traffic mungkin terlihat meningkat, tetapi traffic tersebut belum tentu memberikan nilai bisnis.
Sebaliknya, keyword seperti:
“jasa pembuatan website perusahaan”

Mungkin memiliki volume pencarian lebih rendah, tetapi pengunjungnya lebih dekat dengan target pelanggan.
Ini menunjukkan bahwa traffic besar tidak selalu lebih baik daripada traffic yang relevan.
Keyword yang baik seharusnya memiliki hubungan dengan:
- Topik website.
- Produk atau layanan.
- Masalah yang ingin diselesaikan.
- Kebutuhan target audiens.
- Tujuan bisnis website.
Dengan demikian, strategi keyword tidak hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga mendatangkan pengunjung yang berpotensi menjadi pembaca, pelanggan, atau pengguna layanan.
6. Keyword Sudah Tidak Banyak Dicari
Keyword yang dulu populer belum tentu tetap populer selamanya. Tren pencarian dapat berubah karena perubahan teknologi, perilaku pengguna, produk, berita, atau kebutuhan masyarakat.

Misalnya, sebuah artikel menargetkan keyword “cara membuat website”. Pada awalnya, keyword tersebut mungkin memiliki minat pencarian tinggi karena banyak orang sedang mencari panduan membuat website.
Namun, seiring waktu, kebutuhan pengguna dapat berubah. Munculnya platform website baru, metode pembuatan website yang lebih sederhana, atau perubahan teknologi dapat membuat sebagian pengguna menggunakan keyword dan istilah pencarian yang berbeda.
Hal yang sama dapat terjadi pada keyword yang berkaitan dengan:
- teknologi lama,
- produk yang sudah dihentikan,
- tren tertentu,
- software versi lama,
- event yang sudah selesai,
- istilah yang mulai ditinggalkan.
Akibatnya, artikel yang sebelumnya menghasilkan banyak kunjungan dapat mengalami penurunan traffic meskipun posisi ranking-nya tidak berubah secara signifikan.
Masalahnya bukan selalu karena artikel kehilangan ranking, tetapi karena jumlah orang yang mencari keyword tersebut memang semakin sedikit.
Untuk mengetahui apakah keyword “cara membuat website” masih memiliki minat pencarian, Anda dapat membandingkan performanya dari waktu ke waktu menggunakan Google Search Console dan data tren pencarian.
Perbandingan tersebut membantu melihat apakah penurunan traffic berasal dari perubahan ranking atau memang terjadi penurunan minat terhadap keyword.
Kesalahan Memilih Keyword yang Sering Terjadi
Memilih keyword bukan hanya mencari kata yang sesuai dengan topik artikel. Keyword harus relevan dengan kebutuhan pengguna, memiliki potensi pencarian, tingkat persaingan yang sesuai, dan mendukung tujuan website.
Traffic rendah sering terjadi bukan karena kualitas artikel buruk, tetapi karena keyword yang ditargetkan kurang tepat, sehingga sulit mendapatkan ranking, klik, atau pengunjung yang relevan.
Berikut beberapa kesalahan keyword yang paling sering terjadi.
1 Hanya Mengandalkan Perkiraan
Kesalahan pertama adalah memilih keyword hanya berdasarkan perkiraan pribadi.
Pemilik website biasanya berpikir, “Orang pasti mencari kata ini di Google.” Padahal, apa yang menurut kita sering dicari belum tentu benar-benar digunakan pengguna.
Misalnya, seseorang ingin membuat artikel tentang optimasi website dan memilih keyword:
“optimasi website terbaik”
karena menurutnya frasa tersebut terdengar menarik.
Namun, pengguna mungkin justru lebih sering mencari:
“cara optimasi website”
“cara optimasi SEO website”
“cara meningkatkan traffic website”
Tanpa melakukan riset, kita tidak mengetahui keyword mana yang benar-benar digunakan pengguna.
Karena itu, keputusan keyword sebaiknya tidak hanya berdasarkan intuisi. Gunakan data dari Google Search Console, Google Keyword Planner, Google Trends, SERP, dan tools riset keyword lainnya untuk memvalidasi ide yang ditemukan.
Intuisi tetap berguna untuk menemukan topik awal, tetapi data diperlukan untuk menentukan keyword yang layak ditargetkan.
2. Memilih Keyword Berdasarkan Volume Saja
Search volume memang penting, tetapi menjadikannya sebagai satu-satunya dasar pemilihan keyword merupakan kesalahan.
Misalnya terdapat dua keyword:
Keyword A: 20.000 pencarian/bulan
Keyword B: 1.000 pencarian/bulan
Sekilas, Keyword A terlihat jauh lebih menarik.
Namun, jika Keyword A memiliki persaingan sangat tinggi dan website Anda belum memiliki kemampuan untuk bersaing, sementara Keyword B memiliki persaingan lebih rendah dan sangat relevan dengan target audiens, Keyword B bisa menjadi pilihan yang lebih realistis.
Selain itu, volume tinggi tidak menjamin traffic tinggi. Halaman harus mendapatkan ranking yang baik dan memperoleh klik dari pengguna.
Karena itu, saat memilih keyword, jangan hanya bertanya:
“Berapa volume pencariannya?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa volume pencariannya, seberapa sulit persaingannya, apa search intent-nya, dan apakah keyword ini relevan dengan website saya?”
Dengan mempertimbangkan beberapa faktor sekaligus, strategi keyword menjadi lebih realistis.
3. Mengabaikan Search Intent
Search intent menunjukkan alasan atau tujuan pengguna ketika melakukan pencarian. Mengabaikannya dapat membuat artikel tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya diinginkan pengguna.
Contohnya, keyword:
“kamera terbaik untuk fotografi”
kemungkinan memiliki intent komersial. Pengguna mungkin sedang mencari rekomendasi kamera sebelum membeli.
Jika halaman yang dibuat hanya membahas sejarah kamera, konten tersebut tidak menjawab kebutuhan utama pengguna.
Sebaliknya, keyword:
“cara menggunakan kamera DSLR”
lebih mengarah pada kebutuhan informasi atau tutorial.
Jika halaman hanya berisi daftar produk kamera untuk dijual, halaman tersebut juga tidak sesuai dengan intent.
Sebelum membuat artikel, periksa halaman yang muncul di Google untuk keyword tersebut. Perhatikan apakah hasil pencarian didominasi oleh:
- artikel informasional,
- tutorial,
- daftar rekomendasi,
- halaman produk,
- kategori toko,
- video,
- forum,
- atau jenis konten lainnya.
SERP dapat menjadi petunjuk penting mengenai format konten yang diharapkan pengguna dan dianggap relevan oleh mesin pencari.
4. Terlalu Fokus pada Keyword Pendek
Keyword pendek atau short-tail keyword biasanya terdiri dari satu sampai beberapa kata, misalnya:
- SEO
- website
- laptop
- hosting
- kamera
- digital marketing
Keyword seperti ini memang memiliki potensi pencarian yang besar, tetapi biasanya cakupannya sangat luas dan persaingannya tinggi.
Misalnya, seseorang mencari keyword:
“laptop”
Kita tidak mengetahui dengan pasti apakah orang tersebut ingin:
- membeli laptop,
- mencari rekomendasi,
- mengetahui harga,
- membandingkan laptop,
- memperbaiki laptop,
- mencari spesifikasi,
- atau sekadar mencari informasi umum.
Sebaliknya:
“laptop untuk editing video 4K harga 10 jutaan”
Memiliki kebutuhan yang jauh lebih spesifik.
| Short-tail | Long-tail |
|---|---|
| laptop | laptop untuk editing video 4K harga 10 jutaan |
| volume cenderung besar | volume cenderung lebih kecil |
| intent lebih luas | intent lebih jelas |
| persaingan tinggi | persaingan sering lebih realistis |
| kebutuhan belum jelas | kebutuhan lebih spesifik |
Keyword panjang seperti ini disebut long-tail keyword. Volume pencariannya biasanya lebih kecil, tetapi search intent-nya sering lebih jelas.
Strategi SEO yang baik tidak berarti harus memilih short-tail atau long-tail saja. Keduanya dapat digunakan sesuai tujuan.
Short-tail keyword dapat digunakan untuk membangun cakupan topik, sedangkan long-tail keyword dapat digunakan untuk menjangkau kebutuhan pencarian yang lebih spesifik.
5. Tidak Menganalisis Keyword Kompetitor
Kompetitor dapat memberikan banyak informasi mengenai peluang keyword yang belum dimanfaatkan.
Untuk melakukan analisis yang lebih sistematis, Anda juga dapat mempelajari cara melakukan analisis kompetitor dari nol.
Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat daftar keyword sendiri tanpa melihat keyword apa yang sudah membawa traffic kepada website kompetitor.
Misalnya, Anda memiliki website tentang SEO. Kompetitor mungkin sudah mendapatkan ranking untuk berbagai keyword seperti:
- cara riset keyword,
- cara membuat meta description,
- cara optimasi SEO On Page,
- cara membuat internal link,
- cara meningkatkan traffic website.
Keyword tersebut dapat menjadi sumber ide untuk pengembangan konten.
Namun, menganalisis kompetitor bukan berarti menyalin artikel atau keyword mereka secara mentah. Tujuannya adalah menemukan peluang yang dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih baik.
Perhatikan:
- Keyword yang mereka targetkan.
- Topik yang menghasilkan traffic.
- Search intent setiap keyword.
- Kedalaman konten.
- Struktur heading.
- Pertanyaan yang belum dijawab.
- Informasi yang masih kurang.
- Peluang membuat konten yang lebih lengkap atau lebih praktis.
Dari sini, Anda dapat menemukan content gap, yaitu kebutuhan pengguna yang belum dijawab secara optimal oleh konten yang sudah ada.
6. Tidak Melakukan Riset Keyword Secara Berkala
Riset keyword bukan pekerjaan yang dilakukan sekali kemudian selesai.
Perilaku pencarian pengguna dapat berubah, sehingga keyword yang efektif beberapa bulan lalu belum tentu memiliki performa yang sama sekarang.
Perubahan tersebut dapat terjadi karena:
- tren baru,
- perubahan teknologi,
- munculnya produk baru,
- perubahan kebutuhan pengguna,
- perubahan istilah yang digunakan,
- perubahan kompetitor,
- atau perubahan pola pencarian.
Misalnya, sebuah website memiliki artikel yang dulu mendapatkan traffic tinggi untuk keyword tertentu. Setelah beberapa waktu, traffic menurun.
Jangan langsung menganggap Google menurunkan ranking artikel tersebut.
Periksa apakah volume pencarian keyword memang mengalami penurunan atau pengguna sekarang menggunakan istilah pencarian yang berbeda.
Google Search Console sangat berguna untuk melihat query aktual yang menghasilkan impression dan klik ke website.

Data tersebut dapat digunakan untuk menemukan keyword baru yang mulai muncul tetapi belum menjadi target utama artikel.
Dengan melakukan riset secara berkala, Anda dapat:
- menemukan keyword baru,
- memperbarui keyword lama,
- menemukan peluang long-tail,
- mengetahui perubahan search intent,
- mengidentifikasi keyword yang mulai kehilangan traffic,
- dan mengembangkan artikel berdasarkan data aktual.
Cara Menemukan Keyword yang Berpotensi Mendatangkan Traffic
Menemukan keyword yang berpotensi mendatangkan traffic tidak cukup dengan memilih volume pencarian tinggi. Keyword harus relevan, memiliki search intent jelas, peluang ranking, dan sesuai target audiens.
Riset keyword dapat dilakukan dengan menentukan topik utama, mengembangkan variasi keyword, menganalisis search intent, memeriksa persaingan, dan menemukan celah dari kompetitor.
1. Tentukan Topik Utama
Langkah pertama adalah menentukan topik utama yang ingin dibahas. Topik harus berhubungan dengan bidang website, kebutuhan audiens, serta tujuan konten.
Misalnya website membahas SEO. Beberapa topik utamanya dapat berupa:
- SEO On Page
- Technical SEO
- Riset keyword
- Link building
- SEO Content
- Google Search Console
- Local SEO
Jangan langsung mencari ratusan keyword. Tentukan terlebih dahulu topik utama yang ingin dikuasai website.
Contohnya, jika topiknya adalah SEO On Page, Anda dapat mengembangkannya menjadi berbagai subtopik seperti:
cara optimasi SEO On Page
SEO title
meta description
heading SEO
internal link
image SEO
URL SEO
Dengan menentukan topik utama terlebih dahulu, proses riset keyword menjadi lebih terarah.
2. Cari Keyword Utama dan Keyword Turunan
Setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah mencari keyword utama dan keyword turunan.
Keyword utama merupakan frasa yang menjadi fokus utama halaman. Sementara itu, keyword turunan merupakan istilah yang masih berhubungan dengan topik utama dan membantu memperluas pembahasan.
Misalnya keyword utama:
SEO On Page
Keyword turunannya dapat berupa:
- cara optimasi title
- cara membuat meta description
- struktur heading SEO
- optimasi URL
- internal link
- image SEO
- optimasi keyword
- dll

Keyword turunan tidak harus selalu dimasukkan secara paksa. Gunakan keyword tersebut ketika memang relevan dengan pembahasan.
Tujuannya adalah membuat artikel membahas topik secara menyeluruh, bukan mengulang keyword utama berkali-kali.
3. Analisis Search Intent
Setelah mendapatkan daftar keyword, tentukan search intent dari setiap keyword.
Search intent menunjukkan apa yang sebenarnya ingin dicapai pengguna ketika melakukan pencarian.
Contohnya:
“apa itu SEO”
Pengguna kemungkinan membutuhkan penjelasan.
Sedangkan:
“cara optimasi SEO On Page”
Pengguna kemungkinan membutuhkan panduan atau tutorial.
Sementara:
“jasa SEO terbaik”
kemungkinan menunjukkan pengguna sedang mencari atau membandingkan penyedia jasa.
Search intent penting karena menentukan jenis konten yang sebaiknya dibuat.
Sebelum menargetkan keyword, tanyakan:
Apa yang sebenarnya ingin ditemukan pengguna ketika mengetik keyword ini?
Jika jawabannya tidak sesuai dengan isi artikel yang ingin dibuat, sebaiknya cari keyword lain atau sesuaikan format kontennya.
4. Periksa Search Volume dan Tren
Search volume membantu memperkirakan seberapa besar minat pencarian terhadap sebuah keyword. Data ini dapat digunakan untuk membandingkan beberapa keyword yang memiliki topik serupa.
Namun, jangan hanya melihat angka volume pencarian. Periksa juga tren pencariannya.
Keyword tertentu mungkin memiliki volume yang stabil, sedangkan keyword lainnya sedang meningkat atau justru menurun.
Misalnya:
Keyword A — pencarian stabil
Keyword B — pencarian meningkat
Keyword C — pencarian menurun
Keyword B bisa menjadi peluang menarik jika peningkatannya berkaitan dengan tren yang masih berkembang.
Sebaliknya, keyword C perlu dianalisis lebih lanjut sebelum dijadikan prioritas.
Gunakan beberapa sumber data seperti Google Trends, Google Search Console, Google Keyword Planner, dan tools SEO untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
5. Analisis Tingkat Persaingan
Setelah mengetahui volume pencarian, periksa seberapa sulit keyword tersebut untuk mendapatkan ranking.
Keyword dengan volume tinggi sering kali memiliki banyak pesaing. Jika website masih berkembang, langsung mengejar keyword yang sangat kompetitif mungkin membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar.
Misalnya:
“SEO”
jauh lebih luas dibandingkan:
“cara optimasi SEO On Page untuk pemula”
Keyword kedua memiliki cakupan lebih spesifik sehingga dapat menjadi target yang lebih realistis untuk konten tertentu.
Saat menganalisis persaingan, jangan hanya melihat angka Keyword Difficulty (KD) dari tools SEO.
Anda juga dapat memperkuat analisis dengan mempelajari analisis kompetitor untuk mengetahui peluang keyword dan celah yang masih tersedia. Periksa juga website yang muncul di halaman pertama Google.
Lihat apakah hasil pencarian didominasi oleh:
- website dengan otoritas tinggi,
- website khusus pada topik tersebut,
- marketplace,
- media besar,
- forum,
- atau website kecil yang kontennya masih memiliki banyak kekurangan.
Analisis tersebut memberikan gambaran mengenai seberapa realistis peluang Anda untuk masuk ke SERP.
6. Periksa Halaman yang Muncul di SERP
SERP atau Search Engine Results Page adalah halaman hasil pencarian yang muncul setelah pengguna memasukkan keyword.
Memeriksa SERP secara langsung merupakan langkah penting karena Anda dapat mengetahui jenis konten yang dianggap relevan oleh Google untuk keyword tersebut.
Misalnya, Anda mencari:
“cara membuat website”
Jika hasil pencarian didominasi tutorial lengkap, berarti pengguna kemungkinan membutuhkan panduan.

Namun, jika hasil pencarian didominasi halaman jasa atau produk, keyword tersebut mungkin memiliki intent komersial atau transaksional.
Perhatikan beberapa hal:
- Judul halaman yang berada di posisi atas.
- Format konten.
- Panjang dan kedalaman pembahasan.
- Struktur heading.
- Pertanyaan yang dijawab.
- Elemen SERP seperti video, gambar, forum, atau featured snippet.
- Kualitas dan relevansi konten kompetitor.
Tujuannya bukan meniru hasil pencarian, tetapi memahami standar konten yang harus dipenuhi dan menemukan peluang untuk membuat halaman yang lebih relevan.
7. Temukan Long-Tail Keyword
Long-tail keyword adalah keyword yang biasanya lebih panjang dan lebih spesifik dibandingkan keyword umum.
Contohnya:
“SEO”
menjadi:
“cara optimasi SEO On Page untuk website baru”
Long-tail keyword biasanya memiliki volume pencarian lebih rendah. Namun, pengguna yang mengetik keyword tersebut sering kali memiliki kebutuhan yang lebih jelas.
Contoh lainnya:
“laptop”
dibandingkan:
“laptop untuk editing video 4K harga 10 jutaan”
Keyword kedua jauh lebih spesifik dan menunjukkan kebutuhan pengguna dengan lebih jelas.
Long-tail keyword dapat menjadi strategi yang baik terutama untuk website yang belum mampu bersaing pada keyword yang sangat umum.
Selain membantu mendapatkan peluang ranking, long-tail keyword juga dapat digunakan untuk mengembangkan topik artikel dan menemukan pertanyaan yang benar-benar dicari pengguna.
8. Cari Keyword yang Memiliki Content Gap
Content gap adalah celah informasi yang belum dibahas dengan baik oleh konten yang sudah tersedia di hasil pencarian.
Misalnya, lima artikel kompetitor membahas:
- pengertian SEO,
- manfaat SEO,
- jenis SEO,
- cara kerja SEO.
Namun, hampir tidak ada yang membahas:
contoh penerapan SEO untuk website baru secara langkah demi langkah.
Bagian tersebut dapat menjadi content gap.
Content gap tidak berarti Anda harus membuat artikel lebih panjang daripada kompetitor.
Fokusnya adalah menemukan informasi yang benar-benar dibutuhkan pengguna tetapi belum diberikan dengan jelas.
Cari pertanyaan yang:
- belum dijawab,
- hanya dibahas secara singkat,
- tidak memiliki contoh,
- tidak memiliki langkah praktis,
- sudah tidak relevan,
- atau sulit dipahami.
Dengan mengisi content gap secara tepat, artikel memiliki peluang untuk memberikan nilai yang lebih baik dibandingkan halaman yang sudah ada.
Strategi Keyword untuk Website dengan Traffic Rendah
Traffic website rendah tidak selalu berarti harus menambah artikel. Masalahnya bisa berasal dari keyword yang kurang tepat, persaingan tinggi, struktur topik, atau keyword yang sudah tidak relevan.
Fokuslah pada keyword yang realistis untuk diranking. Daripada mengejar volume tinggi dengan persaingan berat, pilih keyword yang relevan, spesifik, dan berpotensi mendatangkan traffic.
1. Fokus pada Long-Tail Keyword
Long-tail keyword merupakan keyword yang lebih panjang dan spesifik dibandingkan keyword umum.
Contohnya:
“SEO”
dapat dikembangkan menjadi:
“cara optimasi SEO On Page untuk website baru”
Keyword kedua mungkin memiliki pencarian lebih sedikit, tetapi kebutuhan pengguna jauh lebih jelas.
Long-tail keyword cocok untuk website dengan traffic rendah karena persaingannya sering kali lebih realistis. Selain itu, keyword spesifik dapat membantu website menjangkau pengguna yang benar-benar membutuhkan informasi tertentu.
Contohnya, daripada langsung mengejar:
“website”
Anda dapat membuat konten untuk:
“cara membuat website untuk UMKM”
Kemudian mengembangkan variasinya:
- cara membuat website UMKM
- website UMKM gratis
- biaya membuat website UMKM
- manfaat website untuk UMKM
- cara memilih hosting untuk website UMKM
Dengan cara tersebut, website dapat memperoleh peluang ranking dari banyak pencarian yang lebih spesifik.
2. Gunakan Keyword dengan Persaingan yang Realistis
Traffic rendah sering terjadi karena website terus menargetkan keyword yang jauh lebih kuat daripada kemampuan website untuk bersaing.
Misalnya website baru langsung menargetkan:
“SEO”
Padahal halaman pertama didominasi oleh website besar dan sumber yang sudah memiliki reputasi kuat.
Strategi yang lebih realistis adalah menggunakan keyword yang lebih spesifik, misalnya:
“cara SEO On Page untuk pemula”
Kemudian setelah website memiliki lebih banyak konten yang relevan dan mendapatkan otoritas pada topik tersebut, target keyword dapat diperluas.
Saat menentukan tingkat persaingan, jangan hanya menggunakan skor dari tools SEO. Periksa juga halaman yang benar-benar muncul di Google.
Jika kompetitor memiliki konten yang sangat kuat, reputasi tinggi, dan memenuhi kebutuhan pencarian dengan baik, keyword tersebut mungkin membutuhkan usaha yang jauh lebih besar.
Sebaliknya, jika halaman pertama masih memiliki konten yang kurang lengkap atau tidak terlalu relevan, terdapat peluang untuk masuk dengan konten yang lebih baik.
3. Buat Cluster Keyword
Keyword cluster adalah kelompok keyword yang memiliki hubungan erat dan membahas satu topik utama dari berbagai sudut pandang.
Misalnya topik utama:
Riset Keyword
Cluster keyword-nya dapat mencakup:
- apa itu riset keyword
- cara riset keyword
- manfaat riset keyword
- tools riset keyword
- cara mencari long-tail keyword
- cara memilih keyword
- kesalahan riset keyword
- search volume keyword
Daripada membuat satu artikel yang mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut secara berlebihan, Anda dapat menentukan keyword utama dan mengembangkan keyword lainnya menjadi konten pendukung jika memang memiliki kebutuhan pencarian tersendiri.
Strategi ini membantu website memiliki cakupan topik yang lebih luas.
Selain itu, artikel-artikel dalam satu cluster dapat saling terhubung menggunakan internal link sehingga pengguna dan mesin pencari lebih mudah memahami hubungan antarhalaman.
Penerapan internal link tersebut juga menjadi bagian penting dalam SEO On Page, karena membantu menghubungkan halaman yang memiliki hubungan topik.
4. Bangun Topic Cluster
Topic cluster merupakan strategi yang lebih luas daripada sekadar mengelompokkan keyword. Fokusnya adalah membangun sekumpulan konten yang membahas satu topik secara mendalam dan saling terhubung.
Strukturnya dapat dibuat seperti:
Pillar Content
↓
Subtopic 1
↓
Subtopic 2
↓
Subtopic 3
↓
Subtopic 4

Contohnya website membangun topic cluster tentang SEO:
Pillar:
Panduan SEO Lengkap
Konten pendukung:
- SEO On Page
- Technical SEO
- Riset Keyword
- Link Building
- SEO Content
- Google Search Console
- Local SEO
Setiap konten membahas aspek tertentu secara lebih mendalam dan saling terhubung melalui internal link.
Dengan pendekatan ini, website tidak hanya mencoba mendapatkan ranking untuk satu keyword. Website secara bertahap membangun cakupan topik yang lebih kuat.
5. Gabungkan Keyword Utama dan Keyword Turunan
Satu artikel tidak harus hanya memiliki satu keyword yang digunakan secara berulang-ulang.
Lebih baik tentukan:
Keyword utama → keyword turunan → pertanyaan pengguna → istilah terkait

Misalnya keyword utama:
cara optimasi SEO On Page
Keyword turunannya:
- SEO title
- meta description
- heading
- URL SEO
- internal link
- image SEO
- keyword placement
Kemudian tambahkan pertanyaan yang mungkin dicari pengguna:
- bagaimana membuat title SEO?
- berapa panjang meta description?
- bagaimana membuat URL SEO?
- apakah keyword harus ada di heading?
Dengan pendekatan ini, artikel menjadi lebih lengkap dan natural.
Yang perlu dihindari adalah keyword stuffing, yaitu memasukkan keyword secara berlebihan hanya untuk mencoba memengaruhi ranking.
Gunakan keyword ketika memang membantu menjelaskan topik dan menjawab kebutuhan pengguna.
6. Perbarui Keyword pada Artikel Lama
Artikel lama yang traffic-nya menurun tidak selalu harus dibuat ulang. Salah satu langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memeriksa kembali keyword yang digunakan.
Periksa:
- apakah keyword masih banyak dicari,
- apakah search intent berubah,
- apakah pengguna menggunakan istilah yang berbeda,
- apakah ada keyword baru yang mulai menghasilkan impression,
- apakah kompetitor telah membuat konten yang lebih lengkap.
Google Search Console dapat membantu menemukan query yang benar-benar digunakan pengguna untuk menemukan halaman tersebut.
Misalnya artikel awalnya menargetkan:
“cara meningkatkan pengunjung website”
tetapi data Search Console menunjukkan halaman tersebut juga mendapatkan impression dari:
“cara meningkatkan traffic website”
Keyword tersebut dapat dipertimbangkan dalam pembaruan artikel apabila memang relevan dengan isi.
Namun, jangan mengganti keyword hanya karena memiliki volume lebih tinggi. Perubahan keyword harus tetap sesuai dengan isi dan search intent halaman.






